Hubungan Luar Negeri Australia dan Amerika Serikat : Tantangan dan Peluang dari Segi Politik, Ekonomi, dan Keamanan

President Obama and Prime Minister Julia Gillard
The relationship between United States and Australia

Hubungan luar negari antara Australia dan Amerika Serikat telah berlangsung sangat lama, dan sangat harmonis. Kedekatan Australia dan Amerika baik secara sejarah maupun budaya membuat Australia justru lebih erat dan lebih dekat dalam aliansi dan kerjasamanya terhadap Amerika dibandingkan tetangga dekatnya Asia. Kedekatan ini lah yang nantinya akan menjadi permasalahan bagi Australia di kawasan, yang biasa disebut sebagai “Australian Dilemma”, sehingga dilemma ini lah yang nantinya membuat pembahasan essai ini mengenai identifikasi tantangan dan peluang dari hubungan Australia dan Amerika Serikat menjadi pentiing untuk didiskusikan.  

            Australia telah lama menikmati hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat. Hubungan ini bahkan telah dimulai dari lebih dari 100 tahun lalu, dimana Amerika dan Australia bersama sama mengirimkan pasukannya pada tahun 1900 untuk menghentikan pemberontaan Boxer di Cina pada saat itu.[1] Hubungan ini sebamkin instens di masa-masa awal perang dunia pertama, dimana pada saat itu Australia dan Amerika bersama sama berperang di dalam perang Hamel, dan perang Tsushima yang lalu ditindak lanjuti oleh Presiden Roosevelt dengan mengirimkan armada Great White Fleet ke Australia pada tahun 1908 untuk menangkal ancaman dari expansi militer Jepang yang semakin aggresif.[2] Kedua negara menjalin hubungan semakin erat setelah perang dunia ke II berakhir, sebagai respon dari dimulainya perang dingin, dan sebagai strategi untuk menangkal penyebaran pengaruh komunis dikawasan tersebut maka Australia, New Zealand dan Amerika menandatangi perjanjian ANZUS yang mengikat ketiga negara dalam sebuah perjanjian keamanan, termasuk didalamnya kerjasama untuk berkonsultasi, dan bergerak bersama dalam menangai ancaman bersama.[3] Kerjasama keamanan inilah yang menjadi batu loncatan bagi terciptanya kerja sama kerjasama yang lain antara Amerika dan Australia, dimana Amerika telah menjadi partner penting di kawasan Asia Pasific, sepert pembentukan APEC, dan perjanjian AUSFTA dibidang ekonomi dan perdagangan.

            Namun kerjasama dan kedekatan Australia dengan Amerika, bukannya tanpa konsekuensi. Australia secara geografis beradal lebih dekat pada kawasan Asia membuatnya dilemma tersendiri. ‘Australian dilemma’ terjadi karena Australia mempresepsikan diri mereka sebagai bagian dari Anglo-Saxion yang terisolasi di Asia. Di satu sisi Australia merasa lebih condong untuk bekerja sama dengan negara-negara Eropa dan Amerika, namun dilain sisi letak geografis Australia mengharuskan Australia untuk  berintegrasi dengan kawasan Asia, dan dilema itu nampak sangat jelas pada ketjasama antara Australia dengan Amerika, karena dalam banyak kasus kerja sama yang semakin intens antara Australia dengan Amerika justru membahayakan keinginan Australia untuk terintegrasi lebih dalam dengan kawasan Asia.[4]

Saya berpendapat bahwa hubungan luar negeri antara Australia dan Amerika memiliki banyak tantangan dan peluang yang harus direspon dan diwaspadai, mengingat bahwa hubungan kerjasama dengan Amerika, dapat berakibat negatif pada proses integrasi Australia ke kawasan Asia.  Pendapat saya ini didasari dengan melihat tiga argumen yaitu; satu, secara politis, hubungan Australia dan Amerika dapat menguntungkan Australia, dimana kedekatan dengan negara superpower dan hagemoni utama akan mempermudah Australia dalam mencapai tujuan nasionalnya, terutama di lembaga-lembaga internasional seperti PBB. Numun perlu diingat juga kedekatan Australia dengan Amerika juga membawa dampak buruk secara politis, dimana kebijakan luar negeri Australia seringkali tidak independent dan sangat dipengaruhi oleh kepentingan Amerika, dimana pemerintah Australia sangat lemah dalam menekan pemerintah Amerika, namun Amerika memiliki kekuatan untuk mempengaruhi proses pembuatan kebijakan di Australia. Kedua, dari segi ekonomi. Kerjasama kedua negara dalam bidang ekonomi telah saling menguntungkan kedua pihak, dimana Amerika menjadi salah satu tujuan ekspor terbesar Australia, dan Amerika juga menjadi importir dengan jumlah biaya terbesar di Australia, selain juga menjadi salah satu investor besar di negeri Australia itu sendiri. Namun AUSFTA yang nantinya diharapkan meningkatkan investasi dan arus ekspor impor kedua negara juga dapat menjadi berakibat pada berkurangnya arus perdagangan dan nilai investasi dari kawasan Asia, sehingga semakin membuat Australia terasingkan dari kegiatan ekonomi Asia yang penting mengingat kedekatan geografis dan jumlah pasarnya yang besar dan berkembang. Ketiga, dalam segi keamanan. Hubungan dan kerjasama keamanan antara Australia dan Amerika membuat Australia menjadi lebih aman dari ancaman-ancaman dari luar, dimana kerjasama dalam menjaga kawasan dari ancaman, dan kerjasama dalam perkembangan teknologi militer membuat Australia menjadi semakin kuat dikawasan, dan semakin maju dalam hal militer. Namun kerjasama ini berpotensi menimbulkan securiity dilemma dimana nnegara-negara kawasan Asia menjadi sangat waswas dengan dibangunnya pangkalan militer Amerika di Australia yang mana ini berpotensi menciptakan perlombaan senjata di Asia juga, yang bisa berdampak pada semakin berkurangnya kepercayaan negara-negara Asia pada Australia. Dampak negatif lain dapat dilihat dari perjanjian pengembangan dan pembelian senjata yang telah dilakukan kedua negara, dimana Australia pada akhirnya banyak mempersenjatai diri untuk persiapan perang-perang konvensional yang sesunggunya kepentingan Amerika, pada akhirnya Australia didesak untuk mempersenjatai diri untuk membantu Amerika dalam perang-perang yang dilakukan Amerika.

Dimulai dengan argumen pertama,  dilihat secara politis, kedekatan kedua negara membawa tantangan dan peluangnya masing-masing yang harus dijawab oleh Australia. Amerika sebagai negara superpower dan hagemon secara jelas memiliki pemngaruh dan kekuatan yang besar pada level internasional, dimana Amerika dapat mempengaruhi proses pembuatan kebijakan internasional, dan mempengaruhi berjalannya sistem internasional. Kedekatan ini akan sangat membantu Australia dalam memperjuangkan kepentingan-kepentingannya di lembaga-lembaga internasional seperti PBB dimana Amerika memiliki hak veto, ataupun IMF dan World Bank yang mana Amerika memiliki daya tawar yang besar, sehingga bisa meningkatkan posisi tawar dan keamanan serta stabilitas ekonomi Australia juga.[5] Namun kedekatan ini memiliki tantangan. Australia banyak dikritik karena kebijakan luar negerinya yang tidak independen, terlalu berkiblat pada Amerika Serikat, terutama di masa John Howard. Amerika sangatlah memiliki pengaruh dalam pembuatan kebijakan di Australia, seperti bagaimana Amerika menekan Australia perihal pembelian senjata dari Amerika, dan bagaimana Amerika meminta dukungan penuh Australia dalam invasinya ke Afganistan dan Irak yang direspon dengan pengiriman pasukan koalisi Australia ke Irak dan Afganistan terlepas dari kurang vitalnya kepentingan Australia disana.[6] Namun dalam segi politis Australia masih sangat lemah posisi tawarnya pada Amerika, yang dalam banyak hal seperti ketika Australia meminta dukungan dari Amerika menegani kasus Timor Leste yang hanya tidak terlalu mendapat respon positif dari Amerika, dan bagaimana ketidak mampuan Australia menekan secara politis pemberlakuan beberapa barier perdagangan yang berdampak pada komoditas ekspor Australia ke Amerika yang disetujui oleh kongres Amerika. Kebergantungan Australia pada Amerika inilah yang akhirnya membuat kebijakan Australia sangat terpengaruh oleh kepentingan Amerika dan tidak serta merta merefleksikan kepentingan Australia sendiri, ini juga sempat mengancam Australia yang mulai dianggap sebagai outsider oleh negara-negara di kawasan Asia, sehingga ini menjadi tantangan tersendiri bagaimana kedepannya Australia bisa lebih mendemokratisasikan pembuatan kebijakan luar negeri nya, dan menyelaraskannya dengan kepentingan nasional, sehingga bisa lebih independen dalam prosesnya. [7]

Argumen yang kedua bahwa, walaupun dalam bidang ekonomi kedua negara menikmati peningkatan pendapatan dikarenakan peningkatan arus investasi dan ekspor impor yang dikatalisasi melaui AUSFTA. AUSFTA memberikan peningkatan pendaparan dari komoditas ekspor Australia ke Amerika, dan juga meningkatnya investasi Amerika di Australia, juga membawa dampak positif dimana terjadi penyetaraan dan sertifikasi tenaga kerja di beberapa sektor sehingga tenaga kerja Aussiepun bisa bekerja di Amerika, pertumbuhan ini bahkan diproyeksikan untuk terus tumbuh.[8] namun perlu dingat bahwa Australia masih mengalami trade deficit dalam perdagangannya dengan Amerika, dimana jumlah besaran penghasilan yang dihasilkan dari ekspor ke Amerika masih belum sebanding dengan jumlah impor yang harus didatangkan dari Amerika, belum lagi mengingat bahwa produk-produk yang diekspor Australia adalah produk yang rawan akan barrier.[9] Beberapa diantaranya telah terindikasikan terkena invisible barrier di Amerika. Belum lagi ketidak mampuan pemerintah Australia untuk menekan pemerintah Amerika melepaskan subsidi yang diberikan para peternak dan petani di Amerika, yang akan justru melemahkan daya saing produk peternakan dan pertanian Australia.[10] Tantangan yang lain adalah AUSFTA akan memberikan dampak diskriminatif pada impor barang-barang yang datang dari Asia dan belum memasuki perjanjian FTA, sehingga perjanjian ekonomi dengan Amerika ini berpotensi membuat Australia menjadi semakin termarginalkan dari kegiatan ekonomi di kawasan Asia, dan memungkinkkan untuk kehilangan lebih banyak dari impor di kawasan Asia dibandingkan yang akan didapatkan dari peningkatan impor yang dijanjikan oleh AUSFTA.[11] Ini menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Australia dan diperhitungkan dalam menjalin kedekatan ekonomi dengan Amerika Serikat.

            Argumen ketiga, dilihat dari sisi keamanan. Kedekatan Australia dan Amerika memiliki banyak keuntungan bagi Australia dalam meningkatkan stabilitas keamanan diwilayahnya. Amerika telah dianggap sebagai ‘great and powerful friend’ yang berperan sebagai penjaga dari Australia. ANZUS menjadi salah satu perjanjian keamanan yang mengikat kedua negara, dimana Amerika menjanjikan keuntungan bagi Australia dengan mendirikan pangkalan militer dan pangkalan drone di Australia, menambah jumlah personel militer di Australia, pengembangan senjata bersama, dan penjualan senjata militer ke Australia, berserta pembagian informasi intelijen, kerjasama ini mampu meningkatkan kapabilitas militer Australia dan meningkatkan keamanan Australia dengan timbal balik bahwa Australia akan mendukung segala kegiatan militer Amerika dan menganggap ancaman buat Amerika menjadi ancaman buat Australia juga.[12] Namun kerjasama ini perlu dikritisi kembali, terutama ketika menyangkut penempatan senjata berat, kapal dan pesawat tempur dan personel militer di Australia, mengingat bahkan dalam laporan review keaman yang dilakukan pemerintah Australia sendiri menyatakan bahwa Australia secara esensial adalah negara yang aman, dimana serangan langsung sangat kecil kemungkinannya terjadi.[13] Sehingga pembelian senjata tipe berat dengan meanglokasikan budget yang cukup besar dan mahal menjadi tidak relevan dengan kepentingan dan ancaman yang dihadapi Australia sendiri, dimana ancaman Australia saat ini lebih besar pada ancaman-ancaman non-tradisional, sehingga pembelian senjata-senjata berat yang digunakan dalam perang konvensional mengindikasikan bahwa Australia mempersenjatai diri untuk berjaga jaga dan mendukung Amerika di fron- fron perang Amerika, bukan dalam rangka kepentingan keamanan dalam negeri. Demikian juga komitmen Australia mendukung oenuh invasi Amerika di Irak, Afganistan dan perang melawan terrorisme nya yang pada saat itu bahkan belum dapat diidentifikasikan secara pasti kepentingan vital Australia disana, ini juga berdampak buruk dilihat dari bagiamana kedutaan Australia ikut menjadi terancam dari serangan-serangan bom, seperti yang terjadi di bali, dimana sebagaian pengamat melihat bahwasanya hal ini merupakan dampak dari dukungan penuh Australia terhadap Amerika yang justru menjadi semakin membahayakan keamanan nasional Australia. 

            Ketiga argument dan fakta diatas telah mendukung argumentasi saya, bahwa walaupun hubungan Australia dan Amerika memiliki banyak peluang yang mampu menguntungkan Australia, hubungan bilateral kedua negara juga memiliki tantangan-tantangan dan potensi yang membahayakan bagi Australia. Pengaruh Amerika yang terlalu besar mengharuskan Australia untuk mulai berusaha membebaskan keputusannya agar lebih sedikit terpengaruh oleh kepentingan Amerika, dan lebih berfokus pada kepentingan nasional, dan juga berusaha menciptakan hubungan bilateral yang setaram dimana Australia diposisikan sebagai partner yang sama sama maraup keuntungan dengan juga mempertimbangkan kepentingan strategis di kawasan, dan niatan Australia untuk lebih terintegrasi dengan kawasan Asia. Dengan mengidentifikasikan tantangan dan peluang yang dimiliki Australia dalam hubungan bilateralnya dengan Amerika diharapkan Australia mampu memformulasikan kebijakan-kebijakan yang menguntungkan dan memenuhi kepentingan nasional Australia, dan juga kepentingan strategis Australia dikawasan.


[1]Congressional Research Service, ‘Australia: Background and U.S Relations’ , <http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33010.pdf> , diakses 26 Juni 2010

[2] ibid

[3]Australia Government: Departement of Foreign Affairs and Trade, ‘Australia-United States Free Trade Agreement’, < http://www.dfat.gov.au/geo/us/australia_us_alliance.html> diakses 26 Juni 2012

[4]A. Lewis, ‘How Independent Can Australia Foreign Policy Be?’, e-international Relations (online),   <http://www.e-ir.info/2010/04/26/how-independent-can-australia%E2%80%99s-foreign-policy-be/>

[5] US Refrence Service, ‘U.S – Australia Relations’, <http://usrsaustralia.state.gov/us-oz/2009/04/09/ds2.html> diakses 26 Juni 2012

[6] A. Lewis, ‘How Independent Can Australia Foreign Policy Be?’, e-international Relations (online),   <http://www.e-ir.info/2010/04/26/how-independent-can-australia%E2%80%99s-foreign-policy-be/> diakses 26 Juni 2012

[7] M. Beeson, ‘Australia Relationship with United States : The Case for Greater Independence’, < http://espace.library.uq.edu.au/eserv.php?pid=UQ:11015&dsID=mbajps03.pdf> diakses 26 Juni 2012

[8] Australia Government: Departement of Foreign Affairs and Trade, ‘Australia-United States Free Trade Agreement’, < http://www.dfat.gov.au/geo/us/australia_us_alliance.html> diakses 26 Juni 2012

[9] A. Lewis, ‘How Independent Can Australia Foreign Policy Be?’, e-international Relations (online),   <http://www.e-ir.info/2010/04/26/how-independent-can-australia%E2%80%99s-foreign-policy-be/> diakses 26 Juni 2012

[10] M. Beeson, ‘Australia Relationship with United States : The Case for Greater Independence’, < http://espace.library.uq.edu.au/eserv.php?pid=UQ:11015&dsID=mbajps03.pdf> diakses 26 Juni 2012

[11] ibid

[12] Congressional Research Service, ‘Australia: Background and U.S Relations’ , <http://www.fas.org/sgp/crs/row/RL33010.pdf> , diakses 26 Juni 2010

[13] M. Beeson, ‘Australia Relationship with United States : The Case for Greater Independence’, < http://espace.library.uq.edu.au/eserv.php?pid=UQ:11015&dsID=mbajps03.pdf> diakses 26 Juni 2012

4 Comments Add yours

  1. Dodi says:

    anak hi ya mas?

    Like

    1. Iya mas, saya anak HI, masnya anak HI UGM yah?

      Like

  2. nadia says:

    Saya lagi dalam proses penulisan skripsi, kalau boleh, bisa kah mas nya jelaskan lebih detail mengenai AUSFTA? Judul skripsi saya “Tantangan dan Peluang Australia dalam Kerjasama dengan Amerika Serikat Tahun 2015 (Studi Kasus: Austalia-United States Free Trade Agreement)
    Makasih

    Like

  3. nadia suryaningrum says:

    selamat malam,
    bisa kah sama minta file atau data mengenai AUSFTA lebih rinci untuk bahan skripsi saya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s