Negeri Para Manusia Lupa Diri

Marzuki and his brilliant tongue
Ketika Lidah Tak Lagi Bertulang

“Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)

Setelah membaca sebuah artikel di koran yang disediakan di pesawat saat perjalan kembali ke Jogja dari Bali semalam, ada hal yang sangat mengganggu saat membaca sebuah artikel di koran, lagi-lagi tentang tingkah dan perilaku dari para pejabat yang seharusnya mewakili kita dengan baik sebagai wakil rakyat di DPR, namun kenyataannya justru para wakil rakyat itu terlihat hanya mewakili nafsu dan hajatnya sendiri. Entah masihkah mereka bangga menyebut diri mereka sebagai wakil rakyat? Ketika justru secara nyata dengan gamblang bertindak gegabah (kalau tidaak bisa disebut bodoh) dengan cara saling melindungi koleganya yang terlibat korupsi dan menggunakan wewenangnya untuk melindungi kepentingan pribadi.

Baru-baru ini KPK memeriiksa beberapa badan kepala anggaran di DPR yang mana terindikasi telah melakukan tindak pidana korupsi dengan menggunakan jabatan sebagai pengatur anggaran negara di DPR. KPK pun karena memang mandatnya sebagai lembaga untuk menindak tegas korupsi akhirnya memanggil para kepala badan anggaran DPR tersebut, untuk ditanyai dan dikonfirmasi mengenai dugaan tersebut, sekali lagi saya tegaskan ‘DUGAAN’ artinya mereka dipanggil masih sebagai saksi bukan tersangka.  Namun bukannya aksi kooperatif yang dilakukan oleh para ketua banggar dan koleganya di DPR, yang ada malah DPR mogok, DPR ngambek, DPR memboikot hal tersebut, mangkir dari panggilan KPK dan segera ingin bertemu dengan para petinggi KPK dengan memanggil para pemimpin KPK ke DPR, sebuah tindakan yang sangat kekanak kanakan, dan terkesan ceroboh dan terburu-buru yang dilakukan kemungkinan untuk menyelamatkan diri sendiri agar tak terjaring dengan KPK juga. Usaha-usaha konyol itu bisa terlihat dari desakan DPR untuk mengintervensi KPK dengan cara memanggil ketua KPK ke DPR, padahal KPK sedang melakukan penyelidikan pada beberapa anggota DPR, dan juga komentar- komentar tak berakal yang menyatakan untuk membubarkan KPK. Marzukie Alie si pelawak yang memang pintar membuat banyolan menyatakan untuk membubarkan KPK kalau g bisa mencari pemimpin yang kredible untuk KPK., “buat apa ada KPK , kalau pemimpinnya tak bejus” begitulah kira-kira ia bertutur.

Logika si badut Marzuki ini mungkin benar, kalau seandainya KPK memilih sendiri pemimpinnya, tapi masalahnya, pemimpin KPK itu kan direkomendasikan oleh sebuah tim yang dibentuk oleh pemerintah, dan dari rekomendasi tim tersebut itu yang memilih siapa yang berhak menjabat jadi ketua KPK itu ya DPR sendiri, jadi kalau memang ternyata ketua KPK yang menjabat itu tidak kompeten, jadi itu karena inkompetensi DPR, dan berdasarkan logika Marzukie Ali, klo seandainya DPR tidak kompeten untuk memilih juru bicara (kayak Marzuki Alie) ato anggotanya tidak kompeten untuk mewakili rakyat dengan baik, ya berarti bubarkan saja DPR dong.

Entahlah sepertinya negeri ini mulai dikuasai oleh orang-orang tak berkompeten yang sudah lupa diri, lupa bahwasanya dirinya ditunjuk oleh rakyat untuk mewakili perjuangan kepentingan rakyat, lupa bahwasanya sebuah amanah itu nantinya akan dipertanggung jawabkan, lupa bahwasanya mereka adalah orang Indonesia yang harusnya beradab, bermartabat, dan berjuang untuk saudara sebangsanya, dan melupakan bahwasanya rakyat dan para pembela kebenaran tak akan tinggal diam ketika didzalimi haknya, dan tidak bodoh untuk selalu dibohongi. Suatu saat orang-orang lupa diri ini mungkin akan jatuh, dan jatuh dengan keras, ditelan oleh gerakan menuju Indonesia yang lebih baik, dan segera terlupakan dari sejarah, hingga jadilah orang-orang yang lupa diri ini menjadi orang-orang yang terlupakan.

Ah, sudahlah, apa kapasitasku untuk menilai para dewan yang pintar dan terhormat itu, rakyat kecil hanya boleh melihat, rakyat kecil hanya boleh menerima apapun yang diberikan oleh dewan yang terhormat. Tak boleh banyak bertanya, tak boleh banyak mengkritik, mengkritikpun sepertinya tak akan didengar, dinding ruang DPR memang didesain untuk kedap suara, supaya suara-suara rakyat kecil seperti aq ini tidak menganggu kinerja para anggota dewan yang sibuk selalu dengan urusan mereka di ruang ber AC itu.

Mungkin suatu saat nantipun bapak Marzuki Alie yang terhormat akan berceloteh, “Kami itu para wakil rakyat, jadi memang tugas kami menjadi perwakilan bagi rakyat, rakyat ingin kaya, biar kami wakilkan, jadi cukup kami saja yang kaya. Rakyat ingin kenyang, biar kami wakilkan, jadi cukuplah kami yang kenyang. Toh itu memang tugas kami untuk mewakili rakyat, kalau masih ada rakyat yang tidak bahagia, ya cukuplah kami wakilkan saja, biarkan kami bahagia, karena kami adalah perwakilan rakyat.” Bapak marzukie Alie anda memang genius, saya salut pada anda.

Bara E. Brahmantika “il Grande Statista”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s