Bahaya, Ancaman, dan Ketidakefektifan Kebijakan Cina One Child Policy

China Once Child Policy

Salah satu propaganda pemerintah komunis Cina

 

 

Cina saat ini merupakan negara dengan populasi terbesar di dunia, dengan jumlah penduduknya yang besar Cina berhasil memiliki kekuatan produksi dan konsumsi yang cukup besar pula sehingga mampu mendongkrak performa ekonomi Cina.Namun populasi yang besar yang merupakan kekuatan Cina ini juga dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, telah lama pemerintah Cina menganggap bahwa pertambahan penduduk di Cina akan menyebabkan overpopulation yang akan berakibat buruk bagi perekonomian dan kualitas hidup penduduk di Cina, melihat permasalahan itu, pemerintah Cina akhirnya mengambil keputusan untuk membuat kebijakan pengaturan populasi, yang akhirnya kita kenal sebagai One Child Policy pada tahun 1970. Kebijakan ini adalah kebijakan pengaturan populasi yang membolehkan setiap pasangan untuk memiliki hanya satu orang anak[1]. Essai ini akan mendiskusikan tentang kebijakan One Child Policy ( Atau yang selanjutkan akan disingkat menjadi OCP) dan bagaimana kebijakan ini akan berdampak kedepannya setelah lebih dari 30 tahun dilaksanakan oleh pemerintah Cina.

Saya berpendapat bahwa kebijakan OCP tidak lagi relevant untuk diterapkan dan justru akan berdampak negatif baik bagi sisi ekonomi, sosial, dan politik di Cina sehingga sudah seharusnya dihentikan dan diberlakukan kebijakan alternatif lainnya dalam mengkontrol populasi di Cina. Pendapat saya didasari dengan memfokuskan pada satu  argument utama; Bahwa kebijakan OCP saat ini justru akan membahayakan perekonomian Cina, karena  mengurangi jumlah kekuatan produksi dan kekuatan pasar di Cina yang diakibatkan oleh berkurangnya jumlah dari populasi yang berada di usia produktif yang mampu menjadi buruh kerja yang murah sebagai salah satu kekuatan produksi Cina, dan berbagai dampak negatif terhadap ekonomi yang berhubungan dengan tingginya rasio dependensitas, dan dampak dari masuknya Cina kedalam perangkap aging society.[2] Selain itu, kebijakan OCP yang telah dijalankan selama lebih dari 30 tahun ini telah mengakibatkan konsekuensi konsekuensi negatif yang tidak diinginkan yang mana penyakit penyakit sosial yang timbul dikarenakan oleh OCP akan berdampak pada semakin tidak stabilnya kondisi sosial di Cina yang akan berdampak pada timbulnya gangguan gangguan pada kestabilitasan politik di Cina.[3] Dan juga bahwa kebijakan OCP telah mengindikasikan banyak sekali pelanggaran HAM terutama bagi wanita dan anak-anak sehingga apabila diteruskan maka kebijakan ini akan berpengaruh terhadap presepsi negatif masyarakat Cina dan juga masyarakat internasional terhadap pemerintah Cina..[4]

Argumen utama saya menekankan pada dampak negatif dari kebijakan OCP terhadap sosial masyarakat Cina yang akhirnya berdampak pada perekonomian Cina di masa mendatang sehingga dapat menimbulkan ketidak stabilan politik , dimana untuk memahami argumen saya dengan baik, perlu diketahui landasan pemikiran dari kebijakan OCP. Sensus penduduk ditahun 1953 menunjukkan bahwa tingkat kelahiran meningkat pesat dan ditakutkan tidak dapat terkontrol sehingga menimbulkan overpopulation, maka akhirnya salah satu petinggi partai komunis dan juga peneliti yaitu Song Jian mengusulkan untuk menerapkan OCP pada saat pemerintahan Deng Xiaping. Kebijakan OCP di Cina sangat dipengaruhi oleh pemikiran Malthusian yang dibawa oleh Song Jian dari karya karya publikasi Club of Rome.[5] Maltus berpendapat dalam teori populasinya bahwa kekuatan reproduksi apabila tidak dikontrol akan menggungguli kekuatan produksi sehingga akhirnya dengan sumber daya, lahan dan kekuatan produksi yang terbatas, tidak akan mampu memenuhi semua kebutuhan manusia sehingga bagi Maltus salah satu cara untuk meningkatkan kualitas hidup manusia adalah dengan mengurangi jumlahnya, karena dengan begitu sumber daya yang ada, dan hasil dari produksi yang dilakukan hanya akan dibagikan bagi jumlah populasi yang lebih sedikit.[6] Alasan lain yang dikemukakan oleh pendukung OCP adalah masalah perubahan iklim dimana Cina merupakan salah satu penyumbang karbon terbesar secara global, pembatasan populasi berarti juga pembatasan konsumsi energi, sehingga akhirnya jumlah emisi pun bisa dikurangi, ini adalah pandangan pandangan yang melihat manusia sebagai sumber dari ketidak stabilan.[7]

            Setelah mengetahui landasan pikir dari para pendukung OCP maka saya akan menjabarkan argumen saya mengapa OCP dianggap sebagai kebijakan yang saat ini justru membahayakan ekonomi, sosial dan politik Cina. Kenyataannya yang terjadi dilapangan justru rbeda dengan pendapat Maltus, Adam Smith setuju bahwa tidak diperlukan adanya kontrol pemerintah atas jumlah populasi karena menurut Smith ada invisible hand yang mengatur bahkan jumlah populasi, dimana jumlah populasi haruslah dinaikkan sesuai dengan kenaikan permintaan akan buruh di pasar, yang ini juga didukung oleh Petty yang mengatakan bahwa kemiskinan sebenarnya adalah kemiskinan akan jumlah sehingga jumlah optimum populasi haruslah dipertahankan.[8] Pendapat Maltus juga tidak lagi tepat dengan kondisi modern saat ini, dimana walaupun jumlah manusia bertambah, dan lahan di dunia tetap terbatas, namun revolusi industri dan pengetahuan manusia telah membawa inovasi inovasi baru dimana seperti yang diyakini oleh Marx bahwa manusia dapat mengontrol alam, sehingga dengan lahan yang terbatas manusia tetap dapat menghasilkan produk yang lebih banyak sehingga keterbatasan lahan tidak menjadi halangan bagi pemenuhan kebutuhan terutama kebutuhan pangan, sehingga pendapat Maltus menjadi tidak relevan, karena kenyataannya justru akhirnya dengan populasi yang meningkat, meningkat pula jumlah inovasi yang dihasilkan manusia karena manusia dilihat dengan prespektif sebagai pembawa solusi dan memiliki kepampuan untuk mengakumulasikan pengetahuan dan juga dikarenakan dengan semakin banyaknya manusia maka semakin besar pasar dan ruang bagi inovasi karena berkembangnya berbagai kebutuhan baru di masyarakat yang menghasilkan insentif bagi innovasi yang lebih besar, sehingga hasil inovasi ini justru akhirnya meningkatkan produksi, mampu membantu mengurangi emisi, dan meningkatkan taraf kesejahteraan manusia secara keseluruhan.[9]

Permasalahan lain yang dihadapi dari adanya OCP adalah masukya Cina kedalam jebakan aging society dimana di proyeksikan pada tahun 2030 jumlah populasi orang orang yang tidak produktif dengan umur diatas 60 dan berada dibawah umur 14 tahun akan jauh lebih besar dibanding orang-orang yang dikategorikan sebagai produktif yaitu berusia 15-59 tahun. Sehingga masyarakat yang berada di usia produktif nantinya diharuskan menanggung beban dari masayrakat non produktif yang jumlahnya lebih besar, sehingga menimbulkan rasio dependency yang besar, dan berakibat pada munculnya generasi dimana dua pasangan harus menanggung beban bagi empat orang tua dan satu anak serta menghidupi diri mereka sendiri diakibatkan oleh kebijakan OCP, selain itu jumlah masyarakat produktif yang semakin berkurang artinya semakin berkurang pula suplai buruh muda dan murah dan juga suplai pasukan militer yang selama ini menjadi salah satu kekuatan ekonomi Cina, yang mana ini dapat menjadi permasalahan bagi Cina apabila masih ingin mempertahankan posisinya sebagai global factory. Aging Society yang nantinya menunjukkan kondisi akan jumlah orang tua tidak produktif yang lebih besar akhirnya akan memaksa pemerintah Cina untuk mengalokasikan dana lebih besar bagi dana pensiun, dan kesehatan serta kesejahteraan kaum tua, dan artinya ini akan mengambil alokasi bagi modal investasi pemerintah di sektor lainnya yang lebih produktif sehingga akan mengurangi produktifitas ekonomi pemerintah yang justru akan membahayakan kestabilan politik pemerintahan Cina yang sangat bertumpu pada kemajuan ekonominya.[10]

Permasalahan lain yang diakibatkan oleh kebijakan OCP adalah munculnya generasi generasi yang disebut sebagai little emperor dimana generasi ini adalah generasi OCP di Cina, anak satu satunya yang dikarenakan OCP akhirnya mengurangi interaksi anak dalam keluarga membuat anak-anak generasi OCP ini menjadi anak anak pemalu, dan anak-anak yang tidak ingin mengambil resiko, yang akhirnya juga ikut mengurangi kompetitifitas dari sumber daya manusia Cina kedepannya, sehingga kemungkinan akan terjadi stagnansi ekonomi atau bahkan terjadi penurunan index ekonomi Cina dimasa mendatang. lalu ketidakimbangan rasio antara perempuan dan laki laki, dimana para orang tua lebih memilih anak laki laki dan mengaborsi anak perempuan sehingga jumlah rasio antara laki-laki dan perempuan di Cina mencapai 113 banding 100, dan akan terus bertambah, dimana akhirnya nanti semakin banyak laki-laki yang tidak menikah, dan akan menimbulkan permasalahan sosial seperti meningkatnya kriminalitas, perceraian kekerasan, pemerkosan dan bahkan perang dari dampak perubahan demografi akibat dari OCP. OCP juga menghasilkan pelanggaran HAM atas wanita di Cina terus meningkat akbiat dari aborsi, pembunuhan dan penjualan anak wanita, serta juga prostistusi di Cina, bahkan ada beberapa laporan yang menyebutkan bahwa perlakuan dan pengobatan bagi anak wanita lebih rendah dibandingkan terhadap laki laki karena adanya sistem OCP membuat anak perempuan menjadi tidak terlalu diinginkan oleh keluarganya. Semua permasalahan ini terjadi diakibatkan OCP yang telah merusak tradisi dan nilai nilai yang dianut oleh keluarga dan masyarakat Cina selama ini, yang kental akan nilai nilai Confusius dan kekeluargaan.[11]

Argument yang saya sampaikan diatas, menunjukkan dengan jelas dampak negatif dari OCP apabila terus dilanjutkan, dikarenakan bahaya dari kebijakan OCP akan jauh lebih besar dari manfaat yang akan dibawa kedepannya, sehingga penting bagi pemerintah Cina untuk menimbang kembali kebijakan OCP, dan menggantikannya dengan kebijakan lain yang lebih aman bagi masa depan politik, sosial dan ekonomi Cina.


[1] I. Jeffries, China: A Guide to Economic And Political Development , Routledge, New York, 2006, p .5

[2] L. Morgan, Aging, Society and the Life Course, Springer Publishing Company, New York, 2011, p. 253

[3] G. Dvorsky, ‘The Unintended Consequences of China One Child Policy”, io9 (online), 3 Oktober 2012 <http://io9.com/5948528/the-unintended-consequences-of-chinas-one+child-policy&gt; , diakses 11 Januari 2013

[4] Human Right in China, ‘Unfair burdens: impact of population control policies on the human rights of women and girls’, HRIC (online), 1995, <http://hrichina.org/content/5535&gt; , diakses 11 Januari 2013

[5] R. Zubrin, ‘The Population Control Holocoust’ , The New Atlantis (Online) , 2012, <http://www.thenewatlantis.com/publications/the-population-control-holocaust&gt; , diakses 11 Janurai 2013

[6] E. Brezis, ‘Population and Economic Growth: From Hume to the New Growth Theory’ , Departement of Economic Ben-Gurion University (online) , 12 Desember 2011, <http://www.ec.bgu.ac.il/eng/EventsPapers/Brezis-Young_Population%20and%20Economic%20Growth.pdf&gt; , diakses 11 Januari 2013

[7] C. Mulligan, ‘The More the Merrier: Population Growth Promotes Innovation’, The New York Times (online), 23 September 2009, <http://economix.blogs.nytimes.com/2009/09/23/the-more-the-merrier-population-growth-promotes-innovation/&gt; , diakses 11 Januari 2013

[8] H. Sydney, Population Theories and the Economic Interpretation Volume 30, Routledge and Kegan Paul, London, 1957, p. 88

[9] W. Williams, ‘Population Control Nonsense’ , FEE (online), 30 November 2011, <http://www.fee.org/the_freeman/detail/population-control-nonsense#axzz2HqhTUbOx&gt; diakses 11 Januari 2012

[10] F. Wang, ‘China’s population Destiny: The Looming Crisis’ , Brookings (online) , September 2010, <http://www.brookings.edu/research/articles/2010/09/china-population-wang&gt; , diakses 11 Januari 2013

[11] B. Settles, ‘The One Child Policy and Its Impact on Chinese Families’, Departement of Human Development and Familiy Studies: University of Delaware (online) , 7 Juli 2002, <http://www.hdfs.udel.edu/files/pdf/OneChildPolicy.pdf&gt; , diakses tanggal 11 Januari 2013

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s